Uniqlo The Art and Science of Lifewear

Editor in Chief  Men Style Indonesia, Stanley Dirgapradja, mendapat kesempatan khusus untuk melihat langsung pameran The Art and Science of Lifewear: Creating a New Standard for Knitwear, yang berlangsung di Galeri Nasional Jeu de Paume, Paris mulai 26 sampai 29 September 2018 lalu.

Pameran yang sangat artistik dan membuka mata ini merupakan bagian dari Lifewear Day 2018, yang memang merupakan event tahunan yang selalu diadakan oleh UNIQLO. Dan Lifewear Day 2018 ini bertepatan dengan pengadaan Paris Fashion Week, memberi nuansa global pada penyelenggaran event oleh UNIQLO sebagai sebuah merek pakaian kasual asal Jepang. Pameran ini pun menjadi event pertama UNIQLO skala besar yang bisa ikut disaksikan oleh publik.

Tahun ini, UNIQLO ingin fokus memperdalam pemahaman publik pada teknologi dan pendekatan yang mereka lakukan dalam memproduksi pakaian rajutan. Sangat pas dengan musim gugur yang baru menyentuh Paris saat pameran ini dibuka. Tidak tanggung-tanggung, tersedia 5 zona artistik yang bisa dinikmati agar pengunjung diharapkan mampu ikut mengerti filosofi UNIQLO dalam menghasilkan pakaian rajut (dan basically, cara UNIQLO berproses sebagai sebuah perusahaan retail raksasa). Koleksi yang menurut Tadashi Yanai, UNIQLO Founder and Chairman, President & CEO dari Fast Retailing adalah koleksi yang paling sesuai untuk menunjukkan filosofi UNIQLO itu sendiri.

Related Article: Valentino Tokyo Collection

Zona ART menampilkan instalasi rajutan dalam ratusan kombinasi warna yang dapat dipilih dari pakaian-pakaian rajut UNIQLO. Dengan bentuk ratusan lingkaran lebih, tiap pola lingkaran terdiri atas variasi warna beragam, dari kasmir, extra fine Merino, dan premium Lambswool.

Zona Science kurang lebih memperlihatkan bagaimana masa depan pakaian rajut di UNIQLO sendiri. UNIQLO sudah menggunakan teknologi revolusioner WHOLEGARMENT dari Shima Seiki Jepang, yang dapat membuat 1 pakaian rajut dari satu benang yang sama, dan tanpa jahitan sampaing. Sebuah langkah yang diharapkan UNIQLO mampu menyederhanakan proses pembuatan pakaian, mengurangi limbah sehingga mendukung upaya mereka di aspek keberlangsungan (sustainability).

Dilanjutkan dengan Zona Craftsmanship, yang menampilkan video, bahan perbandingan serta deretan foto yang memperlihatkan proses pengerjaan pakaian rajut oleh pengrajin tradisional. Standar tinggi diterapkan oleh UNIQLO untuk setiap langkah pembuatan, dari pemilihan bahan sampai sampai pencucian. Zona ini sendiri dibuat meniru konsep pabrik UNIQLO di Tiongkok. Tentunya, bantuan mesin sangat diperlukan untuk menjaga konsistensi dan ketepatan waktu produksi.

Berikutnya ada Zona Fashion yang memperlihatkan kombinasi warna untuk padu padan aksen tumpuk, yang pada akhirnya menginginkan agar semua orang dapat menyesuaikan dengan gaya pribadi mereka. Beberapa gaya terbaru koleksi Uniqlo U dari Artistic Director Christophe Lemaire dapat disaksikan di zona ini.

Terakhir ada Zona Collaboration yang menampilkan sejumlah koleksi kolaborasi, yang tersedia dalam jumlah terbatas. Bertepatan pula dengan Paris Fashion Week, pengunjung dapat berbelanja langsung koleksi kolaborasi kasmir UNIQLO dengan merek-merek lokal Prancis kenamaan seperti Maison Labiche, Keur Paris dan Andrea Crews.

Seperti sudah disampaikan di awal, pameran unik ini memang sangat membuka mata. UNIQLO memilih langkah bisnis yang membuat kita harus semakin yakin dengan apa yang kita pakai. Ada lebih dari sekedar bergaya, kenyamanan juga desain, tapi yang tak kalah penting pakaian yang ikut menjadi jati diri hidup kita.

Comments

comments