The Kimono Era

Pengaruh Jepang di kebudayaan global seakan tidak pernah habis. Di era 90-an, gaya Harajuku ramai menjadi pembicaraan bila topik tentang Jepang muncul ke permukaan. Dan waktu Harajuku sudah lewat. Namun Jepang terus mendefinisikan ulang ‘style’ dengan begitu banyaknya pengaruh yang mereka terima secara bebas. Tidak seperti banyak negara Asia lainnya.

Kemampuan Jepang untuk mempertahankan akar budaya yang kuat di tengah gempuran budaya asing patut dicontoh. Malahan, dengan dikelilingi oleh budaya asing, kebudayaan Jepang sendiri masih berpengaruh sangat kuat pada negara-negara di sekelilingnya. Dua tahun terakhir, Jepang menjadi tujuan wisata favorit orang-orang Indonesia. Cukup membuktikan bahwa pesona negara ini tidak sebatas sushi, Harajuku, sakura, atau anime. Banyak yang bisa dilihat, dinikmati, dipelajari.

Mungkin itu juga sudut pandang yang dipakai oleh fashion designer senior Edward Hutabarat yang baru menggelar “Batik Journey”, paket fashion show dan pameran batik yang sekaligus merayakan 35 tahun kariernya. Dari 3 dekade lebih itu, 2 dekade ia pergunakan untuk mempelajari, memahami, dan menyambung hidup batik – yang menurutnya adalah produk peradaban. Kami setuju. Di awal kemunculannya, batik merupakan kain yang hanya dibuat, dan dipakai untuk merayakan momen-momen penting dalam kehidupan.

Pemahaman bang Edo, begitu ia biasa dipanggil, tentang batik sudah melampaui titik bagaimana mengapresiasi batik dengan pantas. Jadi saat dia mengolah batik di level yang belum terbayangkan, tidak mengherankan. Menggunakan batik sebagai bahan kimono? mengejutkan. Warna-warna yang ia pilih sangat rendah hati, begitu maskulin, namun kaya dengan detail motif batik itu sendiri. Motif, elemen yang tidak terpisahkan saat kita berbicara tentang batik. Susah membayangkan kimono-kimono ini dipakai di Indonesia yang tropis. Namun, bila koleksi ini hendak dipasarkan di Jepang, ia akan menjadi sebuah diskusi kebudayaan – tak hanya sekedar produk fashion. Batik yang terus berusaha bertahan hidup, membuktikan bahwa bentuknya bisa hadir dalam berbagai macam rupa. Sofistikasi yang rendah hati dari batik yang hadir dengan jutaan cerita di balik proses pembuatannya.

Photo: Davy Linggar Photography